Legitimasi Publik Indonesia atas Perang Amerika-Israel dan Iran: Apa Kata Rakyat?
REPORTASE BHAYANGKARA
JAKARTA — April 02/04/2026, Perang antara Amerika-Israel dan Iran telah memicu krisis keamanan dan ekonomi global, termasuk di Indonesia. Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan PM Israel Benyamin Netanyahu untuk menyerang Iran telah memicu perdebatan tentang legitimasi politik demokratik.
Menurut survei, 59% rakyat Amerika tidak mendukung serangan tersebut, sedangkan di Israel, 82% rakyat mendukung keputusan Netanyahu menyerang Iran. Di Eropa, publik umumnya menentang serangan Amerika-Israel terhadap Iran.
Bagaimana dengan publik Indonesia? Survei Median menunjukkan bahwa mayoritas publik (50,4%) tidak setuju Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) yang dipimpin Trump.
“Publik Indonesia sangat peduli dengan isu Palestina. Sebanyak 66,2% responden merasa khawatir keanggotaan dalam BoP justru akan melemahkan posisi Indonesia dalam membela kemerdekaan Palestina,” kata Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D., Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia.
Presiden Prabowo telah memutuskan bergabung dalam Board of Peace (BoP) Gaza yang diinisiasi dan dipimpin Presiden Trump. Namun, publik Indonesia masih belum jelas tentang keputusan ini.
Dalam survei, 62,5% publik menilai penjelasan pemerintah mengenai keputusan ini masih belum jelas. Apakah publik Indonesia mendukung keputusan presiden tersebut? Jawabannya masih belum jelas.
Legitimasi publik atas perang Amerika-Israel dan Iran sangat penting bagi pemerintah Indonesia. Apakah pemerintah harus mendukung Amerika-Israel, mendukung Iran, atau harus netral? Jawabannya tergantung pada keputusan publik Indonesia.
Survei ini juga memotret dinamika elektabilitas tokoh nasional. Hingga Februari 2026, Prabowo Subianto masih kokoh memimpin klasemen elektabilitas calon presiden dengan 29%.
(Red).
